Hari Kamis Special (13 September 2012) Kisah Ini Membawaku Melintasi Lintasan Masa Yang Akan Datang.

Sinar mentari yang belum menyibak rona gelap fajar di hari Kamis 13 September 2012, kala itu dimana saya meneteskan airmata seakan melihat lintasan masa yang akan datang, Apakah mereka akan seperti itu, Ya Allah berilah hamba dan kedua orang tua hamba kesehatan…

Fajar masih gelap… kukuruyuk terdengar suara alarm HP ku, Huaaaaaaaahh nguap sebentar sembari ngumpulin nyawa… kutengok jam di HP menunjukkan jam 5 kurang. Kemudian saya bergegas mandi… Selesai mandi saya sholat subuh, lantas memperispkan semua bekal yang akan saya bawa ketempat kerja, kurang lebih stengah 6 lewat saya berangkat kerja. Seperti biasa saya keluarkan motor yang saya parikir di kamar bawah.

Grooooook, begitulah bunyi HoldingGate rumah bawah, karena memang dulu sempat dikontrakkan dan dibuka usaha fotocopy. terlihat ibu, bapak, dan adik saya sibontot tengah tertidur, sedang tak lama bapak saya terbangaun. Mata ini menatap kearahnya yang berdiri dengan expresi wajah lelah bukan kantuk, seakan menggambarkan betapa lelehnya ia bekerja semalam.

Bapakku seorang pedagang es dan pengepak ikan beku di muara baru, ia meneruskan pekerjaan kakekku, dan menjaga sisa lapak peninggalan kakekku yang memang sudah dibagi-bagi ke anak-anaknya. Kalau kurenungi hati ini sedih dan sedih, sempat suatu malam aku menangis, karena terbayang betapa lelahnya bapakku bekerja disana, bahkan takkuasa air mata ini terjatuh saa saya mengetikkan kisah ini. hasil yang ia dapat tak sebanding dengan peluh keringatnya semalaman. Saat ku masih di bangku SMP dan SMK sering sekali ikut Bapak bekerja kemuara, Bapakku yang memukuli es untuk ikannya, sedang aku yang memangu es nya untuk diberikan kepada para pelangan “pelele” sebutan disana. Jarak yang begitu lumayan dan harus turun naik tangga untuk sekedar mengantarkan bongkahan batu es yang telah dihancurkan. sesekali untuk menambahi penghasilan Bapak membantu pelelnya untuk mencucikan cumi-cumi dengan air garam upahnya ia simpan untuk aku dan adik-adiku dirumah. Tak terbayang perjuangannya, malam yang dingin tak gentarkan harapannya untuk membahagiakan keluargaku.

Kembali ke masalah saya berangkat kerja, tak lama mengeluarkan motor, saya panaskan lantas berpamitan untuk berangkat. Suasana jalan saat itu masih sepi, tak banyak yang lalu lalang. Kukendarai motor mio soul berplat B6020UNM ini dengan pelan-pelan, hingga di pertigaan jalan belakang Kantor Kecamatan Koja arah pasar lontar, kulihat dua orang kakek dan nenek. Sang nenek tengah membantu si kakaek berdiri, aku lihat sempintas namun entah angin apa yang menyuruhku berhenti lantas memandangi kejadian itu.

Kulihat sinenek berjuang membangunkan si kakek yang roboh di mulut sebuah gang. Aku parkirkan motor ku dipinggir jalan tak perduli maling mengambilnya. Kulihat si nenek tak sanggup dan meninggalkan si kakek,b aku bergeas mendekati dan membangunkan sikakek. Kurangkul tubuhnya yang gemetaran… airmatanya terjatuh dan menangis dihadapanku… “Ya Allah tak tega melihatnya…” hati ini sekana menjerit ingin menangis.

“Ayo bangun ke, biar cucu anter kerumah ya” sahut saya kepada si kakek. Faktor umur menghalalngi pendengarannya, kakekpun lagi-lagi menangis dan menghadapkan wajahnya kewajahku. Tak lama sinenek menghapiriku “ibu gak kuat, engkong udah gak kuat jalan” sahut nenek kepada ku. “Iya gak apa nek, saya antar pulang kerumah saja” jawab ku. “Nanti ade terlambat kejanya” sahut nenek kembali. “Oh gak apa nek, gak apa biar dianter sampe rumah” jawab ku kembali. dipertengahan jalan si kakek mau roboh kembali namun berhasil ku tahan, beberapa warga memandangiku. “Mak dari mana si kakek, kabur lagi ya” teriak salah seorang tetangga. “Iya tadi abis mak tinggal sholat eh udah gak ada, pas dicari ketemu di alkhairiyah sono” sahut si nenek. “Rumahnya dimana nek?” tanyaku. “itu deket lagi belakang masjid nanti ada gang masuk” jawab nenek. “Nenek punya anak?” tanya ku sembari memapah sikakek. “Ada” jawab nenek. “Berapa umurnya nek” tanyaku kembali. “udah besar diamah, tapi kena struk” jawab nenek gak disangka airmatanya jatuh.

Ya Allah ya Robbi kuyakin engkau maha bijak sana dalam menguji hambanya. “Dessss hati ini begitu tersentak”…

Tak lama saya sampi didepan masjid yang nenek tunjuk. “Udah sampai disini aja jang, nanti terlambat kena marah” sahut nenek. “Udah gak apa mak saya antar kedalam, sekalian saya mau maen sebentar, emak ama engkong udah makan belom?” jawab saya sembari bertanya. “Belom jang, si kakek kembali menangis, bahkan langkahnya terhenti. entar adap yang dirasakan si kakek ini bibirnya peluh suaranya membisu dan hanya tangisan saja yang keluar. Dan rupanya nenek dan kekek ini tinggal di dalam masjid di belakang seperti disediakan rumah kecil oleh warga sekitar. “ini rumah nenek jang, sempit, itu anak lagi tiduran gak bisa bangun kena struk” sahut nenek dan lagi-lagi meneteskan air matanya. Sesampainya di depan rumah, sang kakek kembali menangi, saya tak kuasa melihat sang kakek, saya rangkul saya peluk erat, air mata ini pun terjatuh, saya sekan merasakan kalau si kakek ini mau mengatakan sesuatu namun sulit. Saya pun menangis. “Kong yang sabar ya, kong jangan keluar jauh-jauh, kasian emak, ekong dirumah aja, sholat yang rajin, dzikir ya kong” sahut saya. Nenek pun mengangguk, seakan mengiyakan ucapan saya. “Mak ajak engkok dzikir bareng, sholat bareng ya ma, jangan ditinggal-tinggal” sahut saya kembali. Si kakek hanya bisa menangis begitu juga nenek. “Ini mak buat emak beli makan, mudah mudahan cukup” sahut ku sembari memberikan uang kenenek. “Udah jang, jangan untuk ujang jajan” jawab nenek menolak. “Udah mak ini dari cucuk, bener cucuk insya Allah masih cukup untuk jajan” jawab saya meyakinkan. Saya pun mencium kedua tangan mereka meminta doa kepadanya. “Makasih ya, jang!” jawab nenek sambil terbata-bata menangis…

Saya pun bergegas pamit untuk berangkat, Alhamdulillah motor yang sedari saya parkir di jalan masih aman. Kembali melanjutkan perjalanan, ditengah perjalanan terlintas “seperti itukah orang guaku nanti!!! ya Allah ya Rob… berilah hambamu ini kesehatan kekauatn untuk tetap terus mengabdi dan berbakti kepada kedua orangtua hamba sampai akhir hayatnya” Air mata ini mengucur namun terhalang oleh kaca helm. Diri ini tak kuat rasanya membayangkan jika mereka berdua adalah orangtuaku, sedang aku anak yang terbaring sakit yang seharusnya menjaga dan merawat orang tuaku.

Hanya do’a dan do’a yang terlintas dan terucap dihati ” Ya Allah, Ampunilah dosaku, dosa kedua orangtuaku, sayangilah meeka, lindungilah mereka dan berilah mereka kesehatan” amin. Kuusap airmata inikarena tak jauh lagi saya akan sampai ditempat kerja.

Sesampainya ditempat kerja, bayang-bayang tentangsinenek dan kakek tadi terus ada, bahkan sampai saat ini, dikala saya hendak berangkat kerja selalu saya sempatkan tuk berhenti di ujung gang dimana kejadian itu terjadi, dengan harapan dapat bertemu dan berbagi kebaikan kembali…

“Sobatku semua…Cintai dan kasihi mereka (orang tuamu) karena jalan keridoan Allah ada padanya, dan bila mana mereka mengajak pada kesesatan maka jauhi mereka dengan cara yang baik dan jangan kau sakiti. Dia Ibumu yang telah memeliharamu sejak dalam kandungan, hinga kau lahir dan hingga kau besar seperti sekarang, dan dia ayahmu yang bekerja demi anak dan istri yang menafkahimu maka hormatilah dirinya. Nabi Muhammad S.A.W bersabda “jikalau ada makhkuk kedua yang boleh aku sembah, maka aku akan menyembah ibuku” itulah perumpamaan betapa mulianya kedua orangtua kita, Ibu kita sampai-sampai Rasulullah mengibaratkannya seperti itu”. Semoga dapat bermanfaat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s